Laporan Donasi kepada Refugee dari Rohingya dan Bangladesh by Ridwan Hasibuan

WaterDrop - AlmaunAlhamdulillah pengumpulan kali ini lebih jumlahnya dibanding minggu sebelumnya dan atas bantuan pengurus MIIAS, kami mampu mengangkut semua sumbangan. Total 5 rumah: 2 rumah Bangladesh & 3 Rohingya. Porsi agak sedikit kurang karena lebih banyak rumah yang di kunjungi.

Kondisi Rumah Refugee

Setiap rumah memiliki kondisi & keperluan yang berbeda.

Rumah yang saya kunjungi hari Rabu di daerah Payneham ditempati pengungsi dari Bangladesh yang sudah 2 bulan. Saya mendapat kabar bahwa ada 6 orang yang tinggal di sana, tapi mereka cuma punya satu bantal. Alhamdulillah pas sekali ada sumbangan banyak bantal & selimut dari komunitas MIIAS dari minggu sebelumnya, Allah is The Best of Planners. Ketika saya sampai di sana, ternyata ada 10 orang. 2 diantara mereka punya izin kerja. Punya kegiatan English course 2x seminggu dan tidak punya kegiatan lain. Kata salah seorang dari mereka, alasan mengungsi adalah Ekonomi. Sebelumnya tidak Shalat dan mengaji tapi katanya setelah naik Boat, jadi rajin Shalat.

Pada hari Jumat kami mengunjungi rumah di Underdale yang 2 minggu ditempati 5 orang Bangladesh, dan dari semua rumah yang saya kunjungi, ini yang paling buruk kondisinya. Rumah terletak di halaman belakang rumah Landlord. Terbuat dari kayu dengan kondisi yang kotor. Ketika kami masuk, ada burung yang terbang masuk ke dalam rumah. Mereka masih harus membayar rent $340 per minggu. Ini adalah sebuah contoh di mana ada pihak yang mengambil kesempatan dari kesulitan para pengungsi mencari rumah. Jika ada jemaah yang mempunyai info rumah yang siap di sewakan, mohon menghubungi saya. Mereka Memiliki izin kerja tapi tidak punya kegiatan sama sekali. Ketika saya tanya mengapa mengungsi, jawabnya “Ditipu Agent”, yang menggambarkan seolah-olah Australia “Jalan-jalan terbuat dari Emas”, katanya. Karena rumah sangat dingin dan mereka khawatir pemakaian Heater mahal, hal yang dibutuhkan mereka adalah Karpet. (Tembok kayu tipis dan lantai berubin).

Rumah Rohingya di Northfield adalah salah satu contoh “Success Story”. Rumah tua tapi bersih, luas, dan terawat. Di dalam ruang tamu ada papan tulis dengan catatan pelajaran Bahasa Inggris. Salah satu di antara mereka berpendidikan tinggi dan mengajari yang lainnya bahasa Inggris. Ada komputer. Ketika ditanya, mereka tidak minta apa-apa. Semua keperluan tercukupi. Alhamdulillah Semuanya 100% hasil donasi komunitas Muslim di Adelaide. Sangat senang dikunjungi dan atas pemberian daging halalnya. Mereka hanya ingin berkerja agar bisa mengirimkan uang ke Burma dan rindu sanak famili. Ada seorang ayah, 3 anak, dibawah 10 tahun yang sudah bertahun-tahun tidak melihat keluarganya. Mereka tidak ada yang memiliki work permit.

Rumah Rohingya di Elizabeth North baru ditempati seminggu. 4 orang anak muda yang semuanya punya work permit. Ketika didatangi tidak punya kulkas dan peralatan memasak (cuma satu wajan). Tapi Alhamdulillah ke-esokan harinya ada dari komunitas Indonesia yang menghubungi saya via Facebook dan menyumbang Kulkas.

Cerita dari mix family Indonesia dan Rohingya

Yang terakhir adalah rumah seorang Indonesia yang suaminya Rohingya. Namanya Nur Asuti dari Kendal. Menikah ketika menjadi TKW di Malaysia dan suaminya waktu itu kuli bangunan. Punya anak berumur 2.5 tahun dan 6 tahun. Mereka masuk 9 bulan yang lalu. Rumahnya bagus,sederhana dan modern, perlengkapan sudah lengkap. Suami sedang menunggu turunnya work permit yang katanya hampir kelar. Anak dan orang tua di sekolahkan gratis dan Nur Asuti sering datang Muslim Women’s Association di city untuk kelas bahasa Inggris. Mereka merasa berkecukupan hanya Nur merasa kesepian karena kawan-kawan suami lelaki semua. Dia bilang, “saya jumpa perempuan Indonesia di acara tari bali, tapi dia orang kawin Orang Puteh (bule) jadi saya malu (untuk menyapa).” Di situ juga kami mendengarkan cerita salah seorang dari mereka yang 5 tahun berpindah-pindah tempat di Indonesia, dari Sumatra sampai ke Timor Leste, termasuk jalan kaki dari Kupang ke Timor Leste.

Yang paling membutuhkan pertolongan adalah mereka yang baru keluar Crisis Care, dan mereka yang terancam homeless karena sulitnya mencari rumah tanpa perkerjaan. Rata-rata setiap pengungsi mendapat tunjangan sekitar $350-$450 setiap dua minggu. Uang ini di gunakan untuk sewa rumah, makan, transport, dan sebagainya. Kendala jangka panjang adalah bahasa, pekerjaan, dan tidak adanya kegiatan yang produktif bagi mayoritas anak-anak muda ini. Ini adalah resep terciptanya under-class yang akan di kucilkan masyarakat, bergantung dengan tunjangan pemerintah, dan juga berpotensi terjerumus kriminalitas.

Jemaah MIIAS, sesungguhnya niat bersilaturahim dan membantu para pengungsi ini adalah semata-mata untuk mendekatkan diri kita dan mereka kepada Allah swt.

Pengiriman selanjutnya

InshaAllah sumbangan selanjutnya akan di kirimkan hari Sabtu 27/7 pagi jam 10. Untuk saat ini prioritas adalah sembako. Sumbangan furniture atau white goods, bisa hubungi saya dulu tapi pengangkutan akan di atur ketika barang dibutuhkan. Bagi yang ingin ikut mengantar, inshaAllah juga bisa di koordinasikan bersama-sama. Sumbangan bisa di drop di 5A Harbrow Grove, Seacombe Gardens, SA 5047. Untuk info lebih lanjut bisa hubungi saya di 0432 056 474.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*