Diskusi MIIAS – Memberatkan Diri Dalam Hal Makanan?

Berikut kami sadurkan diskusi tentang tema memberatkan diri dalam hal makanan yang tertuang dalam milis MIIAS, semoga bisa memberikan tambahan pemikiran buat muslim di South Australia ini:

Salaam,

“Ayah tadi ustadz memeriksa satu-satu makanan yang kita bawa,” komentar anakku sepulang mengaji.

“Kenapa begitu?Apa ayah kasih makanan yang tidak halal sama Nabil?” tanyaku dengan keheranan.

“Ustadz periksa kode makanan satu-persatu.Kalau ada kode makanan yang termasuk dalam kategori meragukan, mereka akan lapor kepada orangtua anak itu,” jawabnya.

“Hah…sampai segitu repotnya,” aku geleng-geleng kepala sendiri.

Lain lagi cerita Nabila, kembaran Nabil, ketika pulang sekolah.

“Bunda, tadi kawan Nabila protes makanan yang Nabila bawa.Bapaknya bilang haram, karena ada apa itu namanya … jel … jela,” dia kebingungan menyebut namanya.

“Gelatin,” jawabku dengan tangkas.”Kalau ayah bilang, makan aja, nggak apa-apa.Tapi ingat, jangan memaksakan pendapat ini kepada kawan Nabila, karena ayah yakin mereka akan susah menerimanya.”

Suka Memberatkan Diri Dalam Hal Makanan

Saya melihat kecendrungan Muslim untuk memberat-beratkan diri dalam hal makanan.Bukannya saya bermaksud menghalalkan makanan yang jelas-jelas keharamannya, tapi saya prihatin dengan mereka yang terlalu memberatkan diri dalam hal pendetailan mengenai makanan.

Ketika di Indonesia dulu, seorang kawan istri saya pernah diajak makan siang di rumah istri.Namun sebelum makan, kawan tersebut menyelidiki terlebih dahulu tentang dimana ayam itu dibeli.Apakah dibeli di pasar atau disembelih sendiri.Maklumlah ketika itu lagi heboh-hebohnya ayam bangkai yang tetap dijual dan juga yang dipotong asal-asalan.Ketika tahu ayam itu disembelih di pasar, kawan tersebut memutuskan untuk tidak makan ayam tersebut. Bagaimana perasaan tuan rumah pada saat itu. Tentu merasa dipermalukan dan terhina bukan?

Ketika membeli daging panggang halal, seorang kawan ada yang bertindak lebih jauh lagi dengan bertanya apakah si pemilik toko itu sering sholat ke mesjid atau tidak?Kalau sering, berarti kemungkinan besar ayam panggangnya betul-betul halal seperti yang diklaimnya.Ada juga yang berkata, “Jangan beli di butcher itu.Karena pemiliknya orang Syiah”.Padahal dia tidak tahupun, dimana dan bagaimana daging itu disembelih.

Lihatlah, betapa seorang Muslim sangat senang memberat-beratkan dirinya.Dia merasa makin berat usaha dalam memilih makanan, makin bertambah level ketaqwaannya.

Dr. Yusuf Qaradhawi berkata: “Seorang Muslim tidak diwajibkan menanyakan sesuatu yang ghaib darinya (tidak disaksikannya). Misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Apakah memenuhi syarat atau tidak? Apakah disebut nama Allah waktu menyembelihnya atau tidak? Bahkan semua binatang yang ghaib dari kita dan disembelih oleh seorang Muslim walaupun dia bodoh atau fasik atau seorang ahli kitab, halal bagi kita memakannya.” (Halal dan Haram hal. 68)

Beliau kemudian mengutip sebuah hadis Bukhari yang menceritakan bahwa suatu kaum bertanya kepada Nabi saw:

Sesungguhnya suatu kaum memberi kami daging, tetapi kami tidak tahu apakah mereka menyebut nama Allah ataukah tidak ketika menyembelihnya?” Lalu Nabi saw berkata, “Sebutlah nama Allah dan makanlah.”

Para ulama mengomentari hadis ini dengan mengatakan, “Ini merupakan dalil yang menunjukkan bahwa semua perbuatan selalu dihukum sah dan baik, sehingga ada dalil yang menunjukkan rusak dan batalnya perbuatan tersebut.”

Mengenai E-Code

Satu perkara lagi yang perlu ditekankan adalah seseorang tidak perlu memberatkan dirinya untuk menyelidiki apakah makanan tersebut mengandung unsur babi atau tidak. Ada segelintir orang yang menjadi fobia melihat kandungan kimia makanan yang dipenuhi dengan nomer-nomer seperti E114, G45, dsb. Mereka mengandaikan bahwa ia sesuatu yang terbuat dari babi ataupun sapi yang tidak disembelih secara halal.

Sering beredar di internet, daftar-daftar E-code yang haram dimakan, seperti contoh di bawah ini:

Hindari makanan mengandung berikut ini karena adalah Mulsifiers E-Codes For Pig Fat:
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234, E252, E270, E280, E325, E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Berita seperti ini banyak beredar di FB. Untungnya ada saudara Nanung Danar Dono yang mengklarifikasi berita yang tidak benar itu:

Tentang ‘Kode Babi Pada Makanan Kemasan’, maka saya sampaikan bahwa informasi tentang E-numbers (E-codes) ini jelas keliru. Saya juga pernah berbincang dengan Prof. Umar Santoso (FTP UGM Yogyakarta dan Wakil Direktur LPPOM MUI DIY), dan beliau menyatakan bahwa data-data tentang E-number tsb banyak yg tidak benar.”

E-numbers tidak semuanya berasal dari lemak hewan.Ada E-number yang berasal dari bahan nabati, bahan tambang, bahkan bahan sintetis. E-number yang berasal dari hewan, tidak hanya berasal dari lemak, namun juga berasal dari senyawa lain maupun organ tubuh tertentu, seperti : tulang, kulit, telur, susu, dll. E-numbers tidak semuanya emulsifier/stabilizer, apalagi lemak babi.Ada E-number yang berupa senyawa pewarna, senyawa pengawet, senyawa pengasam, senyawa antioksidan, dll.”

Jadi kalau kita tidak mengetahui kepastian nomor-nomor tersebut, kenapa kita menyusahkan diri sendiri saja? Padahal selagi tidak memiliki bukti yang kuat, maka ia tidak perlu diberi banyak perhatian. Ini karena keyakinan tidak dapat diubah dengan keraguan ataupun persangkaan.

Istihalah

Katakan seandainya itu betul terbuat dari bahan dasar babi, maka tidak mengapa untuk memakannya juga … kalau terlanjur.

“Ayah, tadi Nabil termakan kripik yang ada kode makanan yang tertulis “pork” disampingnya. Kawan itu yang kasih,” tanya anakku dengan khawatir.

“Kalau sudah termakan ya sudahlah.Masak mau dimuntahkan kembali,” jawabku dengan santai.

Saya bisa santai begitu, karena tahu bahwa kode makanan yang terbuat dari bahan babi itu sebenarnya sudah berubah rasa, sifat, bau, dan bentuk, sehingga kalau tidak diberitahukan ia terbuat dari bahan dasar babi, orang tidak akan tahu itu dari babi. Inilah yang disebut dengan proses “istihalah” yaitu perubahan dzat dari bahan dasar tertentu kepada suatu bentuk produk yang baru. Ramai ahli tahqiq yang memilih pendapat ini, diantaranya adalah Syaikhul Islam Ibn Taymiyah dan Prof Dr Yusof al-Qardhawi.Kaedah fiqih ini berasal dari madzhab Hanafi dan Maliki, tapi tidak diakui dalam mazhab Syafi’i.Jadi jangan heran, kaum Muslim yang berasal dari Indonesia, sangat sibuk meniliti kode-kode nomor dalam kemasan makanan.

Namun bukan berarti saya main sambar saja kripik dari supermarket.Paling tidak saya meniliti secara sepintas, apakah ada jelas-jelas tertulis mengandung bahan dari babi dan juga alkohol.Namun, tidak lebih dari itu.

Bahaya Mana: Makanan Dengan E-Code Yang Tidak Jelas Dibandingkan Riba?

Saya sering heran dengan kaum Muslimin yang tinggal di luar negeri ini.Seringkali mereka sangat keras atau “syadid” ketika memilih makanan, tapi sangat santai melakukan riba.

Padahal riba adalah satu dari tujuh dosa besar dimana orang melakukan riba diasumsikan sedang berperang melawan Allah swt dan Rasullullah.Ini jauh lebih gawat. Jadi daripada berpening ria meneliti kode-kode makanan kemasan yang termasuk dalam masalah khilaf, lebih baik kita bersusah-payah agar tidak terlibat dengan riba yang sudah jelas-jelas keharamannya.

Pandai-pandailah memilih prioritas dalam berfiqh.Coba cari buku yang membahas masalah “Fiqh Prioritas”.

Wajibkah Orang Awam Berfiqh Dengan Satu Mazhab Saja?

Sebelum menutup tulisan ini, saya hendak menerangkan perbedaan pandangan dalam melaksanakan pendapat-pendapat dari berbagai macam mazhab fiqh.

Dalam menurunkan hukum-hukum yang berasal dari al-Quran dan as-Sunnah, para ulama telah menentukan metode-metodenya sendiri yang sering disebut dengan mazhab atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “school of thought”. Atas ketekunan ulama masa silam itulah maka terbentuk beberapa mazhab fiqh seperti Hanbali, Hanafi, Syafi’i dan Maliki.

Bagaimana dengan masyarakat awam sendiri?Wajibkah mereka bermazhab sebagai ulama-ulama fiqh ketika menghasilkan sebuah hukum agama? Pada dasarnya ada 3 pendapat dalam hal ini:

Pertama – Ulama yang mewajibkan orang awam berpegang hanya dengan satu mazhab fiqh. Mereka khawatir jika orang awam diizinkan menukar mazhab sesuka hatinya, maka mereka menukar menurut hawa nafsunya saja.

Kedua – Ulama yang membolehkan orang awam memilih pendapat dari berbagai macam mazhab fiqh.Mereka berpendapat bahwa masyarakat awam biasanya mengikuti mazhab ulama tempat mereka bertanya. Walaupun begitu, mereka tidak mengharamkan perbuatan beramal dengan satu mazhab saja, karena banyak golongan muslim yang yang tidak mampu memahami dalil dan perbincangan para ulama.

Ketiga – Ulama yang mengharamkan beramal dengan satu mazhab saja dan mewajibkan orang awam untuk memilih pendapat dari mazhab manapun.

Kalau saya ditanya ikut pendapat yang mana, maka saya jawab ikut pendapat kedua.Pendapat kedua ini berada dipertengahan alias moderat.

Wassalam,
Erwin

————————————————————————————————————————–

Wa’alaikum salam wr wb.

Menarik apa yang dishare oleh Ust Erwin, hanya saja ada beberapa yang perlu didiskusikan lebih dalam:

1. “Ustadz periksa kode makanan satu-persatu. Kalau ada kode makanan yang termasuk dalam kategori meragukan, mereka akan lapor kepada orangtua anak itu,” jawabnya.”Hah…sampai segitu repotnya,” aku geleng-geleng kepala sendiri.

~~~ Berlebihan atau tidak sesungguhnya sang Ustadz telah berhati-hati dalam memperhatikan makanannya (termasuk bagi anak didiknya). Hadist ke 6 dalam “arba’in Nawawi” yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, menyatakan bahwa Rosululloh bersabda “sesungguhnya yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, antara keduanya terdapat yang samar yang tidak diketahui oleh banyak umat manusia.barang siapa menjaga diri dari yang samar, maka ia telah menjaga agama dan harga dirinya. sedangkan barang siapa yang jatuh kepada perkara samar, maka ia telah jatuh kepada wilayah haram”.
Ketika bahan melalui proses pengolahan, maka banyak unsur yang ditambahkan ke dalam bahan baku sehingga menjadi sebuah produk olahan. sebut saja penambah rasa, flavour enhancers, emulsifiers, pengawet, pewarna, acidulant, antioksidan dsb. Mohon maaf, mungkin hanya sedikit diantara kita yang mengenal kandungan dari bahan tambahan makanan (food additives)tersebut. inilah yang dikhabarkan oleh Rosululloh bahwa ada ruang yang subhat (samar) yang tidak dikenali secara kasat mata oleh masyarakat umum, karena hal itu perlu penulusuran secara kimiawi atau bahkan biomolekuler. karena sangat memungkinkan jika bahan tambahan makanan tersebut menggunakan unsur babi dalam pembuatannya. (sebagai catatan: hewan babi hanya 20% yang dikonsumsi yaitu dagingnya, sisanya lemak, jerohan, kulit dll tidak dikonsumsi, shg dimanfaatkan untuk bahan-bahan lain).
Masyarakat dimudahkan dengan panduan bahan halal dan haram berkode E (kode E itu pembagian jenis bahan tambahan makanan yang keluarkan oleh masyarakat Eropa).

Justru saya salut kepada ustadz tersebut yang telah berhati-hati dalam memilih makanannya.

2. “Gelatin,” jawabku dengan tangkas. “Kalau ayah bilang, makan aja, nggak apa-apa.

~~Gelatin adalah senyawa protein yang berasal dari hewan (spt sapi, domba, kambing dan babi), baik dari tulang maupun kulit (kolagen). tentu karena berasal dari hewan, hal ini menjadi sangat kritis. umumnya tulang dan kulit sapi atau domba/kambing juga terjual dan termanfaatkan untuk konsumsi makanan (di Indonesia sering kita lihat kikil kaki sapi, rambak kulit, rujak cingur dll). sebaliknya sangat jarang tulang dan kulit babi dikonsumsi oleh manusia. maka mohon maaf memang sebagian besar gelatin menggunakan babi, kecuali ada logo halal atau keterangan bahwa gelatin tersebut berasal dari sapi atau kambing yg disembelih secara halal.

 3. Dr. Yusuf Qaradhawi berkata: “Seorang Muslim tidak diwajibkan menanyakan sesuatu yang ghaib darinya (tidak disaksikannya). Misalnya: Bagaimana cara penyembelihannya? Apakah memenuhi syarat atau tidak? Apakah disebut nama Allah waktu menyembelihnya atau tidak? Bahkan semua binatang yang ghaib dari kita dan disembelih oleh seorang Muslim walaupun dia bodoh atau fasik atau seorang ahli kitab, halal bagi kita memakannya.” (Halal dan Haram hal. 68)

~~Dalam kitab Halal dan Haram dalam Islam karangan Dr. Yusuf Qordhowi di hal 68 tersebut sesungguhnya berkenaan dengan prisip Islam tentang hukum halal dan haram yakni Darurat mengakibatkan yang terlarang menjadi boleh. jadi kondisi daruratlah yang menjadikan sesuatu yang haram jadi boleh. akan tetapi, ayat-ayat alquran memberi persyaratan kepada orang yang terpaksa (kondisi darurat) dengan “tidak sengaja dan tidak pula melampaui batas”. kalo makanan sudah tertelan tanpa ada unsur kesengajaan menelannya, ya tentu tidak apa-apa. tapi jika sudah tau ada unsur haram, masih juga mengkonsumsinya maka akan jatuh pada melampaui batas. wallohu a’lam.

4. E-numbers tidak semuanya berasal dari lemak hewan. Ada E-number yang berasal dari bahan nabati, bahan tambang, bahkan bahan sintetis.

~~Memang benar, bahwa E-numbers tidak semua dari hewan. sehingga tidak semua E-numbers haram, tetapi memungkinkan subhat dan halal.

Pada akhirnya, bukan berarti berhati-hati terhadap makanan itu memberatkan diri dalam hal makanan, tetapi lebih pada mendekatkan diri pada ketaqwaan.(Quran surah al maidah 88).wolluhu a’lam

 

Badrut Tamam

Mantan Pemukim Kampung Tonsley

Wadir LPPOM MUI Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*